Jakarta – Tiga kabupaten di wilayah Indonesia timur, telah dipilih untuk jadi proyek percontohan bagaimana mengembangkan investasi. Tiga kabupaten itu adalah: Pulau Morotai (Provinsi Maluku Utara), Maluku Tenggara Barat (Provinsi Maluku), dan Sabu Raijua (Provinsi Nusa Tenggara Timur).
Hal itu diungkapkan Dirjen Pengembangan Daerah tertentu (PDTu) Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP, hari Senin (26/9), menjelaskan hasil rapat kerja Sinkronisasi Program Terpadu Daerah Tertentu Tahun 2017. Raker itu diadakan oleh Ditjen PDTu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada 15-16 September di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu.
Menurut Suprayoga, pemilihan tiga kabupaten tersebut itu telah dibahas sebelumnya bersama dengan Bappenas dalam forum multilateral yang juga melibatkan daerah dan beberapa mitra kerja lainnya. “Intinya kita masih dalam penjajakan awal, dan mencoba mengonsolidasikan program unggulan, agar bentuk pembangunan di ketiga wilayah tersebut dapat dilaksanakan secara terpadu dan sinkron terutama dalam rangka peningkatan investasi di daerah perbatasan, dan pengembangan aquaculture estate di pulau kecil terluar,” lanjutnya.
Suprayoga menjelaskan lebih lanjut bahwa ada empat tahapan yang perlu dilakukan. Pertama, mengidentifikasi potensi yang ada. “Segala bentuk potensi yang dapat mengakselerasi ekonomi dan ketertinggalan daerah perlu secara mendalam diidentifikasi sehingga menjadi landasan sebelum melangkah ke tahapan berikutnya” lanjut Suprayoga. Kedua, mengobservasi permasalahan dan kebutuhan prioritas di daerah. “Jadi semacam need assesment”, tambahnya. Ketiga, melakukan rencana dan skala prioritas dalam pelaksanaan intervensi,. Keempat, menyusun rencana investasi. “Potensi, Observasi, Intervensi dan Investasi”, kata Suprayoga.
Kabupaten Pulau Morotai ada dengan sejarah peninggalan artefak masa perang dunia ke-2 telah menarik banyak wisatawan untuk berkunjung kesana. “Potensi pariwisatanya cukup terkenal” tambah Suprayoga. Di Maluku Tenggara Barat ada Blok Masela, yakni potensi industri migas. Sedangkan di Sabu Raijua ada pengembangan perikanan, rumput laut dan industri garam.
“Jadi masih dalam tahap penjajakan awal. Namun, pada 2017 diperkirakan sudah mulai ada kegiatan-kegiatan yang bisa kita keroyok bareng. Untuk bisa menyiapkan daerah-daerah itu sebagai daerah potensi, untuk investasi di daerah perbatasan dan pulau terluar,” tutur Suprayoga.
Ditambahkan oleh Suprayoga, leading untuk menentukan kebutuhan harus daerah yang menyiapkan. Tetapi leading fasilitasi dan infrastruktur dasar harus dari pusat. Sedangkan, yang berinvestasi nanti adalah dari pihak swasta. Banyak yang harus disiapkan untuk investasi, seperti regulasi, infrastruktur dasar, ketersediaan SDM, yang sesuai dengan kebutuhan setempat (chm).

